Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaya Hidup. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juni 2008

Pernikahanku


Hidup Baru

Manusia harus selalu memperbaruhui hidupnya, tanggal 14 Juni yang juga HUT-ku aku memilih istriku yang sangat kucintai yaitu Susan Puspitasari dengan pemberkatan nikah di GPdI Kertosono.

Semoga dengan jalan hidup baru menemukan manusia yang lengkap dan menempa pengalaman hidup yang sejati.

Sabtu, 19 April 2008

Jam Gadang Bukittinggi

Bukittinggi - Jam Gadang terletak di jantung kota Bukittinggi Sumatra Barat dengan arsitektur belanda dibangun tahun 1926 oleh arsitek Yazid dan Sutan Gigi Ameh.

Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (sekretaris kota) Rook Maker dan dilakukan peletakan batu pertama oleh putranya yang masih berumur 6 tahun.

Ukuran
* Diameter jam 80 Cm
* Denah Dasar 13 X 4 Meter
* Tinggi 26 Meter

Saat dibangun biaya seluruhnya mencapai 3.000 Gulden dengan penyesuaian dan renovasi dari waktu ke waktu.
Saat jaman Belanda dan pertama kali dibangun atapnya berbentuk bulat dan diatasnya berdiri patung ayam jantan.

Sedangkan saat masa jepang berubah lagi dengan berbentuk klenteng dan ketika Indonesia Merdeka berubah menjadi rumah adat Minangkabau.

Sabtu, 29 Maret 2008

Sport Jantung, Kelok 44 Trully Sumatra


www.beritajatim.com
Sabtu, 29/03/2008 11:00 WIB
Reporter : Teddy Ardianto

Padang - Jika ke Padang jangan lewatkan mengunjungi kelok 44 diatas Danau Maninjau Sumatra Barat. Selain melihat pemandangan indah mendaki bukit dan melihat danau nan elok anda juga dibuat sport jantung.

Bayangkan saja ada sekitar 44 kelokan menuju ke Bukit tinggi dengan kelokan hampir 90 derajat membuat jantung anda berdegup kencang.

Wartawan yang naik bus PT Semen Padang tak urung menahah nafas ketika bus menaiki tanjakan demi tanjakan menuju titik terkahir yaitu 44.

"Saya merem-melek semoga bus tidak guling dan nanti diberitakan," kata Arif Ardliyanto wartawan Sindo yang terus berdiam diri duduk di belakang bus.

Humas PT Semen Gresik Bu Narti juga tak jarang menghitung kelokan diatas danau yang indah tersebut satu persatau muali dari keloka 2 hingga kelokan terakhir.

"Sudah berapa kelokan ya, wah masih 28 kurang 14 lagi wuih," kata Bu Narti.

Alhamdullilah setelah melewati semua kelokan semuanya lega dan menarik nafas panjang hingga menuju puncak menuju ke Kota Wisata Bukit Tinggi yang terkenal dengan jam gadangnya.[ted]

Kamis, 27 Maret 2008

Ditawari Naik Taksi Plus Esek-esek Keliling Kota

www.beritajatim.com
Kamis, 27/03/2008 23:24 WIB
Semalam di Padang
Reporter : Teddy Ardianto

Padang -Kehidupan cafe, restauran dan sejumlah karaoke telah tutup lebih awal sekitar pukul 23.00 WIB bahkan sejumlah tempat juga telah diberi peringatan kawasan anti maksiat.

"Semuanya harus menghentikan kegiatan dan jika melanggar sanksinya adat dan agama namun hingga kini Perda tersebut belum ampuh karena masih bisa dilanggar," ungkap wartawan lokal Padang.

Pantauan beritajatim.com di lapangan sejumlah taksi terlihat berseliweran di depan tempat rombongan media visit PT Semen Gresik jalan Gereja Padang.

"Saya tadi ditawari naik taksi dan ketika melongok ada wanita duduk di jok belakang," kata Ikhsan wartawan Surya yang ditawari naik taksi warna biru.

Sopir taksi menawarkan harga Rp 200 ribu keliling kota Padang dan berkencan didalam taksi dengan wanita yang dibawanya tersebut. "Ayo bang keliling," ajak wanita yang duduk di depan dengan manja.

Informasinya wanita-wanita yang menjajakan diri tersebut bukan asli Padang namun dari luar kota dan mereka datang tidak mempunyai ketrampilan yang memadai.

Selain itu dengan menggunakan taksi-taksi tersebut mereka bisa menyamar dan mengelabui Perda Anti Maksiat karena taksi tidak masuk pantauan perda itu.[ted]

Sabtu, 10 Juli 2004

Menerima cinta di jalan tol New York-Boston

Surya, Sabtu 10 Juli 2004

Kapolda Jatim Firman Gani nikahkan putri sulung

Pengantar: Kapolda Jatim Irjen Pol Firman Gani sedang punya gawe menikahkan putri sulungnya Widya Suraannisa SE (Hani). Bagaimana kisah cinta Hani dengan Firawan
Agusprakoso Soebagjo (Ju)?

SENYUM Hani terus mengembang usai menjalani prosesi siraman di rumah dinas Kapolda Jatim Jl Bengawan 30, Jumat (9/7).

Namun saat prosesi ’sakral’ itu beberapa kali butiran air matanya nyaris tumpah membasahi pipi. Tapi tangan Hani buru-buru menghapus dengan secarik tisu warna putih di genggaman tangannya.

Mahasiswi S-2 Jurusan Magister Manajemen UI Jakarta ini ternyata seperti ayahnya, Firman Gani. Supel ketika diajak bicara wartawan.

“Saya bertemu dengan Mas Firawan kebetulan aja di sebuah pesta perkawinan di Jakarta sekitar Januari 2004,” tutur Hani.

Setelah pertemuan itu keduanya langsung terlihat lengket dan saling menelepon setiap hari dan mengirim e-mail melalui internet.

Kebetulan Firawan memang tinggal jauh yakni di Boston, AS. Sebulan setelah pertemuan itu, Hani bersama teman kantornya punya kesempatan pergi ke Italia untuk sebuah acara televisi. Rupanya cinta Hani terus bersemi sehingga ketika urusan kantor usai, menyempatkan mampir ke tempat tinggal Firawan di AS.

“Kami bertemu selama sepuluh hari dan sejak saat itu merasa cocok banget ketika jalan-jalan dengan Ju (panggilan Firawan). Saya menerima cinta saat berada di jalan tol antara New York- Boston,” aku Hani tersipu.

Gayung pun bersambut. Saat berada di Amerika itu Hani dikenalkan pada keluarga Firawan. Ternyata orangtua Firawan juga setuju.

Puncaknya April 2004 lalu. Keluarga Firawan melamar Hani kepada keluarga Firman Gani.

Menurut Hani, yang membuat terkesan dengan sosok Firawan, meski tinggal lama di Amerika namun masih sopan-santun seperti adat orang Timur.

Ke mana bulan madu? Hani tak mau menjawab. Ia hanya cerita setelah menikah akan pergi ke Solo untuk nyekar dilanjutkan ke Lampung juga nyekar keluarga Irjen Pol
Firman Gani.

Sesuai jadwal, Sabtu (10/7) pagi ini calon mempelai akan melangsungkan akad nikah dan dilanjutkan acara resepsi di Hotel JW Marriott pada malam harinya. Acara resepsi ini bakal meriah karena yang diundang mulai Kapolri, gubernur dan ulama dengan hiburan artis Titi DJ dan Koes Hendratmo. (teddy ardianto)

Minggu, 05 Mei 2002

Hanya Kelihatan Betisnya Doang Sudah Sok Artis

Surya, Minggu 5 Mei 2002

TB Gramedia-UK Petra sambut bulan buku
Boim dan Hilman pamer enaknya jadi pengarang

PARA penggemar cerpen Lupus ger-geran saat Hilman Hariwijaya dan Boim Lebon blak-blakan bagi pengalaman menulis novel atau cerita pendek.

Ratusan remaja maupun anakanak yang baru saja mengikuti lomba membaca indah di Auditorium Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya tak beranjak mendengarkan cerita dari kedua pengarang terkenal, Sabtu (4/5).

Acara yang digelar kerja sama UK Petra dengan Toko Buku (TB) Gramedia ini dalam rangka Bulan Buku Nasional bertema Baca Yuk Sehari Satu Buku.

Boim yang pertama kali didaulat menceritakan pengalamannya menjadi pengarang, tampil rileks dengan joke-joke segar.

“Saat masih SMA, saya memang diajak Hilman menjadi pengarang dengan memerankan Boim yang sok play boy dalam cerita Lupus,” katanya.

Saat duduk dibangku SMA itu, Boim mengaku sering naksir cewek di sekolahnya sehingga mendapat julukan play boy duren tiga (tak laku). “Dari lima cewek yang saya taksir, anehnya ada tujuh yang menolaknya,” kelakar Boim yang disambut ger-geran peserta diskusi dari kalangan siswa SD, SLTP hingga mahasiswa.

Pada kesempatan kemarin Boim juga bercerita tentang teman sekolah bernama Gusur yang sering berpuisi baik di kelas maupun di luar kelas. Misalnya pada saat jam pelajaran, Gusur
tidak paham dengan mata pelajaran yang diajarkan guru. Gusur kemudian bertanya lewat berpuisi.

“Manakala angin bertiup semilir-semilir. Daun-daun kemudian berguguran, wahai bapak guru ada anakmu yang belum mengerti apa yang bapak terangkan,” cerita Boim mengutip puisi Gusur.

Boim mengaku selama ini kebiasaan mengarang muncul setelah bertemu dengan Hilman.

“Waktu itu saya diminta membaca karangan Hilman yang akan dikirimkan ke majalah. Setelah karangan itu dimuat dan dapat honor, saya tertarik menulis cerpen,” tuturnya.

Sementara itu Hilman yang berbicara dalam sesi kedua lebih banyak memberikan nasihat dan masukan kepada peserta diskusi.

“Sekarang profesi pengarang jadi alternatif untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Sekali dimuat bisa dihargai Rp 200.000-Rp 250.000,” terang Hilman.

Hilman kemudian mengatakan dengan mengarang dirinya bisa membeli rumah dan terima gaji tetap dari royalti. Seperti dari TB Gramedia saja, hingga saat ini sekitar 2.654.000 eksemplar buku karangannya telah terjual dengan pendapatan mencapai Rp 2 miliar.

Apalagi saat ini bermunculan stasiun TV swasta yang banyak menayangkan sinetron maupun cerita menarik lainnya. “Kalau cerita karangannya bisa ditayangkan televisi, akan dapat honor
sekitar Rp 4 juta dan bisa terkenal,” paparnya.

Hilman memberi saran kepada peserta diskusi, kalau ingin terkenal jangan mencari jalan pintas dengan mendaftar sebagai bintang sinetron. Seperti cerita Fifi Alone dalam serial Lupus adalah temannya satu SMA yang sok jadi artis terkenal.

“Padahal cuman jadi figuran yang hanya kelihatan betisnya doang. Ke sekolah sudah pake sepatu hak tinggi dan pake lipstik menor,” tuturnya disambut ger lagi. (teddy ardianto)